Selamat Datang di Digestex Media

Harga Gas untuk Industri Diusulkan Turun

Jakarta, Januari 2020


Menteri PerekonomianMenteri Perekonomian, Airlangga Hartarto

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan akan mengkaji tiga opsi yang diusulkan Presiden Joko Widodo terkait penurunan harga gas industri hingga Maret 2020. Pengkajian tersebut dilakukan untuk melihat apakah ketiganya memungkinkan untuk direalisasikan.

Menurut Airlangga pemerintah akan segera memutuskan penurunan harga gas untuk industri setelah pengkajian tersebut rampung. Harapannya harga gas industri sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi. Dalam Perpres tersebut, pemerintah menetapkan harga gas industri sebesar US$ 6 atau sekitar Rp 83.784 per Million British Thermal Unit (mmbtu). Saat ini, harga gas industri berada pada rentang US$ 9-US$ 12 atau sekitar Rp 125.676-Rp 167.568 per mmbtu.

Menteri ESDM Arifin Tasrif juga akan mengkaji langkah-langkah untuk bisa menurunkan harga gas industri termasuk opsi menghilangkan porsi pemerintah dari hasil kegiatan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) sebesar US$ 2,2 atau sekitar Rp 30.720 per mmbtu. Porsi pemerintah dari hasil kontraktor K3S dianggap ikut membebani komponen pembentukan harga gas. Opsi ini bakal dikaji bersama dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Sementara itu, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto akan mengkaji ketiga opsi yang diusulkan Jokowi untuk menurunkan harga gas industri. Terkait opsi mengurangi porsi pemerintah dari hasil kontraktor K3S, Dwi menilai hal yang perlu dipertimbangkan yaitu mengenai substitusi pajak. Sebab, opsi tersebut dinilai akan menurunkan penerimaan pajak yang didapat pemerintah. “Tentu harus ada kenaikan pajak di sektor lain. Lalu, ada jaminan di industri yang akan naik,” kata Dwi. Terkait opsi membebaskan impor gas bagi industri, Dwi khawatir hal tersebut justru dapat meningkatkan defisit neraca perdagangan di sektor migas. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit migas pada November 2019 sebesar US$ 1,01 miliar. “Harus dikaji kompensasinya apa buat defisit yang akan bertambah,” kata Dwi.

Jokowi sebelumnya geram karena harga gas industri tak kunjung turun. Padahal, perintah penurunan harga gas industri telah tercantum dalam Perpres Nomor 40 Tahun 2016. Dalam Perpres tersebut, pemerintah menetapkan harga gas industri sebesar US$ 6 atau sekitar Rp 83.784 per mmbtu. Saat ini, harganya berada pada rentang US$9 - US$12 atau sekitar Rp125.676 - Rp167.568 per mmbtu. Atas dasar itu, Jokowi menawarkan tiga opsi untuk menurunkan harga gas industri.

Opsi pertama yakni dengan mengurangi atau menghilangkan porsi pemerintah dari hasil kontraktor K3S sebesar US$ 2,2 atau sekitar Rp 30.720 per mmbtu. Opsi kedua, mewajibkan K3S memasok gas untuk domestic market obligation (DMO), yang bisa diberikan kepada Perusahaan Gas Negara (PGN). “Opsi ketiga, yakni bebas impor untuk industri,” ucap Jokowi.


digestex magazine