Upaya meningkatkan Devisa Indonesia melalui ekspor TPT

Jakarta Oktober 2018


Menteri PerdaganganEnggartiasto Lukita, Menteri Perdagangan

Selama ini industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) selalu menjadi salah satu primadona ekspor dimana pada tahun 2017 ekspor TPT Indonesia mencapai US$12,58 miliar. Namun bila dibandingkan dengan beberapa negara competitor perkembangan TPT Indonesia sebenarnya tidak terlalu menggembirakan. Ini bisa dilihat dari pangsa pasar TPT Indonesia di pasar global yang tetap memiliki pasar 1,7% dibandingkan dengan Vietnam, India dan Bangladesh.


Menurut para pelaku di sektor ini kebijakan pemerintah justru membuat industri padat karya ini tertekan. Pada acara seminar yang dilakukan di Bandung pertengahan September Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan komitmen pemerintah untuk mendukung industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sebagai tuan rumah di negeri sendiri dan menjadikan industri ini sebagai andalan ekspor non migas.


Dalam sambutannya Menteri Perdagangan Lukita Enggartiasto menyampaikan bahwa Industri TPT merupakan industri yang terus tumbuh dan berkembang sehingga dapat menjadi andalan devisa Indonesia dengan peringkat ketiga setelah sektor pariwisata dan kelapa sawit. Enggartiasto optimis ekspor TPT tahun ini akan meningkat 8% dari tahun lalu yang sebesar US$ 12,78 miliar.


Disampaikan bahwa pemerintah telah berupaya membuka akses pasar produk TPT melalui penyelesaian berbagai perjanjian dagang dengan sejumlah negara. Pemerintah juga melakukan peningkatan ekspor melalui percepatan perundingan dan pembukaan akses pasar ke pasar non-tradisional di kawasan Afrika, seperti Tunisia, Maroko, dan Mozambik. Selain itu, pemerintah turut mendorong peningkatan kerja sama ekonomi ASEAN dengan negara-negara mitra strategis, seperti Kanada, AS, dan Rusia.


Menurut Enggartiasto, di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global dan adanya perang dagang antara AS dengan Cina, berpengaruh terhadap industri TPT. Namun demikian, perang dagang tersebut juga membuka peluang pasar bagi ekspor Indonesia di pasar global khususnya di Amerika. “Indonesia sudah seharusnya bisa memanfaatkan peluang yang ada, setidaknya mengambil hampir 38 persen atas pangsa ekspor TPT asal Cina ke AS,” ungkapnya.


Dalam diskusi panel dengan para pelaku dengan nara sumber Anne Patricia Sutanto (PT. Pan Brothers), Iwan Setiawan Lukminto (Sritex) terungkap bahwa peluang pasar untuk TPT masih menjanjikan dan ini merupakan peluang pengusaha muda untuk berinvestasi di industri pertekstilan.